5 Puisi favorit dari buku Sea of Stangers

Sea of Strangers merupakan karya terbaru dari penulis asal Australia beranama Lang Leav. Jujur, saat saya membelinya di sebuah toko ketika transit di bandara, saya tidak pernah sekalipun membaca buku model ‘begini’ sebelumnya, dan ekspektasi saya akan buku ini tidaklah besar. Alasan saya membeli pun cuku sederhana. Cuma karena, ‘wah, sampulnya menarik, sepertinya saya pernah lihat di Twitter

sos_langleav
Sampul buku yang terlihat sedih dan menenangkan disaat yang bersamaan

Diluar dugaan saya, tak perlu membaca hingga 10 halaman, saya sudah yakin bahwa ini adalah salah satu buku terbaik yang saya baca di kuartal awal 2018 ini. Buku ini merupakan buku yang terdiri atas 200 puisi pendek yang bercerita tentang romansa maupun insight dari kehidupan sehari hari.

Kalau berbicara mengenai buku yang bagus, pada dasarnya banyak orang menyukai suatu buku, selain karena ceritanya yang bagus (dalam kasus novel), juga dikarenakan kesesuaian-related, terhadap pembaca. Bagi saya, puisi-puisi dalam buku ini sangatlah relatable dengan kehidupan saya, hehe

Berikut adalah 5 puisi terbaik menurut saya.

  1. Ad Infinitum.

    The solution,
    is neither
    further or nearer

    Like the mirror,
    of a mirror
    of a mirror

    Yang saya dapat dari puisi Ad Infinitum ini ialah, solusi dari suatu permasalahan adalah diri kita sendiri, bukan orang lain, ataupun hal lainnya !, kompromilah, lawanlah, dan pahamilah diri sendiri, puisi 6 baris ini sangat dalam maknanya !!

  2. Strength.

    Don’t let them tell you that your pain should be confined to the past, that it  bears no relevance to the present. Your pain is part of who you are.

    They don’t know how strong that makes you

    Setiap orang yang kita kenal, bagaimanapun juga memiliki masa lalu, yang menjadikan mereka seperti sekarang, kadang kita hanya melihatnya dengan 1 sudut pandang saja, yakni keadaan mereka saat ini, dan langsung judgmental terhadapnya :(.

  3. Smoke & Mirrors.

    Why do you hesitate ?

    Why would you let that tempt you ?

    And if you don’t make her yours now, someone else will .

    Puisi yang menuliskan bahwa kita harus menjadi orang yang sanggup mengambil keputusan. Puisi ini sebenarnya lebih panjang dari tiga baris tersebut, namun saya hanya mengutip ‘intinya’ saja. Be decisive now, don’t be regret later !

  4. Closer to Me.

    It was long ago, yet you feel closer to me than yesterday, more hopeful than tomorrow — You are as far and near as memory,
    As distant as the sun — as close as its light on my skin.

    Puisi yang menggambarkan bahwa tidak selamanya jarak dan waktu dapat menghilangkan luka, ataupun rasa senang, yap, tidak selamanya hal-hal yang romantis itu indah dan menyenangkan, kadang kita harus menerima rasa manis dan pahit bersamaan, untuk bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, bittersweet !

  5. Meant to be.

    If they were meant to be in your life, nothing could ever make them leave. If they weren’t, nothing in the world could make them stay.

    Berbicara tentang takdir, mungkin kita membayangkan bahwa tidak ada hal yang bisa melawannya. Mungkin sekilas puisi tersebut menjelaskan hal ini, konvergensi. Namun yang saya lihat dari puisi ini adalah, semua hal yang SUDAH kita usahakan, SUDAH kita perjuangkan, bukan berarti tidak ada gunanya.  Apabila kita kita melihat kebelakang, bukankah SEMUA itu ‘hasil’ atau akibat dari SEMUA tindakan dan perjuangan kita?. Bukankah kita tidak bisa melihat masa depan? maka dari itu, ambilah pelajaran dari hal-hal dibelakang kita.

 

Tak perlu jadi penulis. Jadilah orang yang menulis

Banyak sekali hal yang terbesit di kepalaku, dan sebenarnya sudah menjadi draft tulisan yang akan ku publish di blog ini. Namun semuanya berasa setengah matang, dan alih alih diselesaikan, bahkan saat ini saya selalu heran dan bingung memandang draft tulisan yang menumpuk (beberapa hanya berisi judul saja).

Continue reading “Tak perlu jadi penulis. Jadilah orang yang menulis”